Lakso Khas Palembang Mi Beras Lembut dan Kuah Santan Kuning

Tradisikuliner.com Di tengah popularitas pempek sebagai ikon kuliner Palembang, terdapat satu hidangan tradisional yang lebih lembut, tenang, dan sarat nilai budaya, yaitu Lakso khas Palembang. Lakso bukan hanya makanan, tetapi cerminan kesabaran, kebersahajaan, dan kehangatan dapur tradisional Palembang. Rasa dan tampilannya yang sederhana justru menjadi kekuatannya.

Jejak Sejarah Lakso dalam Budaya Palembang

Berbeda dengan laksa dari daerah lain yang lebih kuat rempah atau pedas, lakso Palembang memiliki karakter rasa yang halus. Inilah yang membuatnya cocok untuk semua kalangan usia, dari anak-anak hingga orang tua.

Mi Beras Buatan Tangan yang Menjadi Ciri Utama

Mi lakso terbuat dari adonan tepung beras yang dimasak hingga kalis dan lengket. Adonan ini kemudian dimasukkan ke dalam cetakan tradisional dan ditekan langsung ke dalam air panas, menghasilkan mi beras panjang berwarna putih.

Proses ini membutuhkan ketelitian dan kesabaran karena tekstur mi sangat bergantung pada suhu air dan kekentalan adonan. Hasil akhirnya adalah mi beras yang lembut, kenyal ringan, dan mudah menyerap kuah. Tekstur inilah yang membedakan dari mi atau bihun lainnya.

Kuah Santan Kuning dengan Aroma Rempah Halus

Kuah lakso dibuat dari santan segar yang dimasak bersama bumbu halus seperti bawang merah, bawang putih, kunyit, ketumbar, dan lengkuas. Kunyit memberikan warna kuning alami sekaligus aroma hangat yang lembut. Ikan ini memberikan rasa gurih alami tanpa membuat kuah terasa berat.

Perpaduan Rasa yang Menenangkan

Lakso disajikan dengan cara sederhana: mi beras disusun dalam mangkuk, lalu disiram kuah santan kuning hangat. Taburan bawang goreng dan seledri menambah aroma serta tekstur.

Rasa lakso cenderung gurih, lembut, dan sedikit manis alami dari santan. Tidak ada rasa yang terlalu menonjol, semuanya hadir dalam keseimbangan.

Lakso sebagai Representasi Kearifan Lokal

Lakso mencerminkan kearifan lokal masyarakat Palembang dalam mengolah bahan sederhana menjadi sajian bernilai tinggi. Hidangan ini juga menunjukkan bagaimana masyarakat Palembang menghargai proses.

Eksistensi Lakso di Tengah Perubahan Zaman

Saat ini, lakso tidak sepopuler pempek, namun tetap bertahan di dapur-dapur tradisional dan rumah makan tertentu sering muncul dalam acara keluarga besar atau perayaan adat sebagai simbol kehangatan dan kebersamaan.

Penutup

Lakso Khas Palembang: Mi Beras Lembut dan Kuah Santan Kuning adalah hidangan yang menawarkan lebih dari sekadar rasa. Ia menghadirkan cerita tentang tradisi, kesabaran, dan keharmonisan rasa.

Navigasi pos

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *